Selasa, 03 Agustus 2010

Pentingnya studi kelayakan usaha (Kewirausahaan)

Pentingnya Studi Kelayakan Usaha
Sebelum bisnis baru dimulai atau dikembangkan, harus diadakan penelitian tentang apakah bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan menguntungkan atau tidak. Bila menguntungkan, apakah keuntungan tersebut memadai dan dapat diperoleh secara terus-menerus dalam waktu yang lama? Secara teknis, mungkin saja usaha tersebut layak dilakukan, tetapi secara ekonomis dan sosial, kemungkinan kurang memberikan manfaat. Untuk itu, ada dua studi atau analisis yang dapat digunakan untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu bisnis untuk dimulai dan dikembangkan, yaitu:
(1) Studi kelayakan usaha
(2) Analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (strength, weakness, opportunity, threat—SWOT)
Studi kelayakan usaha atau analisis proyek bisnis adalah penelitian tentang layak atau tidaknya suatu bisnis dilaksanakan dengan menguntungkan secara terus-menerus. Studi ini pada dasarnya membahas berbagai konsep dasar yang berkaitan dengan keputusan dan proses pemilihan proyek bisnis agar mampu memberikan manfaat ekonomis dan sosial sepanjang waktu. Dalam studi ini, pertimbangan ekonomis dan teknis sangat penting karena akan dijadikan dasar implementasi kegiatan usaha.
Hasil studi kelayakan usaha pada prinsipnya bisa digunakan antara lain untuk:
1. Merintis usaha baru, misalnya membuka toko, membangun pabrik, mendirikan perusahaan jasa, membuka usaha dagang, dan lain sebagainya.
2. Mengembangkan usaha yang sudah ada, misalnya untuk menambah kapasitas pabrik, memperluas skala usaha, mengganti peralatan/mesin, menambah mesin baru, memperluas cakupan usaha, dan sebagainya.
3. Memilih jenis usaha atau investasi/proyek yang paling menguntungkan, misalnya pilihan usaha dagang, pilihan usaha barang atau jasa, pabrikasi atau perakitan, proyek A atau proyek B, dan lain sebagainya.
Adapun pihak yang memerlukan dan berkepentingan dengan studi kelayakan usaha di antaranya :
1. Pihak Wirausaha (Pemilik Perusahaan)
Memulai bisnis atau mengembangkan bisnis yang sudah ada sudah barang tentu memerlukan pengorbanan yang cukup besar dan selalu dihadapkan pada ketidakpastian. Dalam kewirausahaan, studi kelayakan usaha sangat penting dilakukan agar kegiatan usaha tidak mengalami kegagalan dan memberi keuntungan sepanjang waktu. Demikian juga bagi penyandang dana yang mengajukan persyaratan tertentu seperti bankir, investor, dan pemerintah. Studi kelayakan berfungsi sebagai laporan, pedoman, dan bahan pertimbangan untuk merintis dan mengembangkan usaha atau melakukan investasi baru, sehingga bisnis yang akan dilakukan meyakinkan wirausaha itu sendiri maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan.
2. Investor dan Penyandang Dana
Bagi investor dan. penyandang dana, studi kelayakan usaha penting untuk memilih jenis investasi yang paling menguntungkan dan sebagai jaminan atas modal yang ditanamkan atau dipinjamkan, apakah investasi yang dilakukan memberi jaminan pengembalian investasi yang memadai atau tidak. Oleh investor, studi kelayakan sering digunakan sebagai bahan pertimbangan layak atau tidaknya investasi dilakukan.
3. Masyarakat dan Pemerintah
Bagi masyarakat, studi kelayakan sangat diperlukan terutama sebagai bahan kajian apakah usaha yang didirikan atau dikembangkan bermanfaat bagi masyarakat sekitar atau sebaliknya justru merugikan, seperti bagaimana dampak lingkungan, apakah positif atau negatif. Bagi pemerintah, studi kelayakan sangat penting untuk mempertimbangkan izin usaha atau penyedidan fasilitas lainnya.
Proses dan Tahap Studi Kelayakan
Studi kelayakan usaha dapat dilakukan melalui tahap-tahap berikut:
Tahap Penemuan Ide atau Perumusan Gagasan
Tahap penemuan ide adalah tahap di mana wirausaha memiliki ide untuk merintis usaha baru. Ide tersebut kemudian dirumuskan dan diidentifikasi, misalnya kemungkinan-kemungkinan bisnis yang paling memberikan peluang untuk dilakukan dan menguntungkan dalam jangka waktu yang panjang. Banyak kemungkinan, misalnya bisnis industri, perakitan, perdagangan, usaha jasa, atau jenis usaha lain yang dianggap paling layak.
Tahap Formulasi Tujuan
Tahap ini adalah tahap perumusan visi dan misi bisnis, seperti visi dan misi bisnis yang hendak diemban setelah bisnis tersebut diidentifikasi apakah misinya untuk menciptakan barang dan jasa yang sangat diperlukan masyarakat sepanjang waktu ataukah untuk menciptakan keuntungan yang langgeng, atau apakah visi dan misi bisnis yang akan dikembangkan tersebut benar-benar menjadi kenyataan atau tidak? Semuanya dirumuskan dalam bentuk tujuan.
Tahap Analisis
Tahap penelitian, yaitu proses sistematis yang dilakukan untuk membuat suatu keputusan apakah bisnis tersebut layak dilaksanakan atau tidak. Tahapan ini dilakukan seperti prosedur proses penelitian ilmiah lainnya, yaitu dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah, menganalisis, dan menarik kesimpulan. Kesimpulan dalam studi kelayakan usaha hanya dua, yaitu dilaksanakan atau tidak dilaksanakan.
Adapun aspek-aspek yang harus diamati dan dicermati dalam tahap analisis tersebut meliputi:
1. Aspek pasar, mencakup produk yang akan dipasarkan, peluang, permintaan dan penawaran, harga, segmentasi, pasar sasaran, ukuran, perkembangan, dan struktur pasar serta strategi pesaing.
2. Aspek teknik produksi/operasi, meliputi lokasi, gedung bangunan, mesin dan peralatan, bahan baku dan bahan penolong, tenaga kerja, metode produksi, lokasi, dan tata letak pabrik atau tempat usaha.
3. Aspek manajemen / pengelolaan, meliputi organisasi, aspek pengelolaan, tenaga kerja, kepemilikan, yuridis, lingkungan, dan sebagainya. Aspek yuridis dan lingkungan perlu menjadi bahan analisis sebab perusahaan harus mendapat pengakuan dari berbagai pihak dan harus ramah lingkungan.
4. Aspek finansial/keuangan, meliputi sumber dana dan penggunaannya, proyeksi biaya, pendapatan, keuntungan, dan arus kas.
Tahap Keputusan
Setelah dievaluasi, dipelajari, dianalisis, dan hasilnya meyakinkan, maka langkah berikutnya adalah tahap pengambilan keputusan apakah bisnis tersebut layak dilaksanakan atau tidak. Karena menyangkut keperluan investasi yang mengandung risiko, maka keputusan bisnis biasanya berdasarkan beberapa kriteria investasi, seperti Periode Pembayaran Kembali (Pay Back Period—PBP), Nilai Sekarang Bersih (Net Present Value—NPV), Tingkat Pengembalian Internal (Internal Rate of Return—IRR), dan sebagainya yang akan diuraikan dalam bab ini.
Secara ringkas, proses studi kelayakan di atas dapat digambarkan sebagai berikut:
GAMBAR Proses Studi Kelayakan Bisnis


Analisis Kelayakan Usaha
Telah dikemukakan bahwa untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu bisnis untuk dilakukan, harus dianalisis berbagai aspek. Bagaimana cara mengetahui bahwa aspek-aspek tersebut layak atau tidak? Berikut ini akan dibahas beberapa kriteria yang dapat dijadikan aspek penilaian.

Analisis Aspek Pemasaran
Untuk menganalisis aspek pemasaran, seorang wirausaha terlebih dahulu harus melakukan penelitian pemasaran dengan menggunakan sistem informasi pemasaran yang memadai berdasarkan analisis dan prediksi apakah bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan memiliki peluang pasar yang memadai atau tidak. Dalam analisis pasar, biasanya terdapat beberapa komponen yang harus dianalisis dan dicermati, di antaranya:
1. Kebutuhan dan keinginan konsumen. Barang dan jasa apa yang banyak dibutuhkan dan diinginkan konsumen? Berapa banyak yang mereka butuhkan? Bagaimana daya beli mereka? Kapan mereka membutuhkan? Jika kebutuhan dan keinginan mereka teridentifikasi dan memungkinkan terpenuhi, berarti peluang pasar bisnis kita terbuka dan layak bila dilihat dari kebutuhan/keinginan konsumen.
2. Segmentasi pasar. Pelanggan dikelompokkan dan diidentifikasi, misalnya berdasarkan geografi, demografi, dan sosial budaya. Jika segmentasi pasar teridentifikasi, maka pasar sasaran akan dapat terwujud dan tercapai.
3. Target. Target pasar menyangkut banyaknya konsumen yang dapat diraih. Berapa target yang ingin dicapai? Apakah konsumen loyal terhadap bisnis? Apakah produk yang ditawarkan dapat memberi kepuasan atau tidak? Jika konsumen loyal, maka potensi pasar tinggi.
4. Nilai tambah. Wirausaha harus mengetahui nilai tambah produk dan jasa pada setiap rantai pemasaran, mulai dari pemasok, agen, hingga konsumen akhir. Nilai tambah barang dan jasa biasanya diukur dengan harga, misalnya berapa harga dari pabrik pemasok, harga setelah di agen, dan harga setelah ke konsumen. Dengan mengetahui nilai tambah setiap rantai pemasaran, maka nilai tambah bisnis akan dapat diketahui tinggi atau rendah.
5. Masa hidup produk. Harus dianalisis apakah masa hidup produk dan jasa bertahan lama atau tidak. Apakah ukuran lama masa produk lebih dari waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan laba sampai modal kembali atau tidak. Jika masa produk lebih lama, berarti potensi pasar tinggi. Harus dianalisis juga apakah produk industri baru atau industri lama sudah mapan atau produk industri justru sedang menurun. Jika produk industri baru sedang tumbuh, maka potensi pasar tinggi.
6. Struktur pasar. Harus dianalisis apakah barang dan jasa yang akan dipasarkan termasuk pasar persaingan tidak sempurna (seperti pasar monopoli, oligopoli, dan monopolistik), atau pasar persaingan sempurna. Jika barang dan jasa termasuk jenis pasar persaingan tidak sempurna, berarti potensi pasar tinggi dibandingkan bila produk termasuk pasar persaingan sempurna.
7. Persaingan dan strategi pesaing. Harus dianalisis apakah tingkat persaingan tinggi atau rendah. Jika persaingan tinggi, berarti peluang pasar rendah. Wirausaha harus membandingkan keunggulan pesaing dilihat dari strategi produk, harga, jaringan distribusi, promosi, dan tingkat penggunaan teknologinya. Jika pesaing lebih unggul, berarti bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan akan lemah dalam persaingan. Untuk memenangkan persaingan, tentu saja bisnis tersebut harus lebih unggul daripada pesaing.
8. Ukuran pasar. Ukuran pasar dapat dianalisis dari volume penjualan. Jika volume penjualan tinggi, berarti pasar potensial. Misalnya, dengan volume penjualan usaha skala kecil sebesar Rp 5 miliar per tahun atau sebesar Rp 10 juta per hari, berarti ukuran pasar cukup besar.
9. Pertumbuhan pasar. Pertumbuhan pasar dapat dianalisis dari pertumbuhan volume penjualan. Jika pertumbuhan pasar tinggi (misalnya lebih dari 20 persen), berarti potensi pasar tinggi.
10. Laba kotor. Apakah perkiraan margin laba kotor tinggi atau rendah? Jika profit margin kotor lebih dari 20 persen, berarti pasar potensial.
11. Pangsa pasar. Pangsa pasar bisa dianalisis dari selisih jumlah barang dan jasa yang diminta dengan jumlah barang dan jasa yang ditawarkan. Jika pangsa pasar menurut proyeksi meningkat, bahkan setelah lima tahun mencapai 40 persen, berarti bisnis yang akan dilakukan atau dikembangkan memiliki pangsa pasar yang tinggi.
Bila aspek pemasaran global layak, maka analisis berikutnya adalah aspek produksi atau operasi.

Analisis Aspek Produksi/Operasi
Beberapa unsur dari aspek produksi/operasi yang harus dianalisis adalah:
1. Lokasi operasi. Untuk bisnis hendaknya dipilih lokasi yang paling strategik dan efisien, baik bagi perusahaan itu sendiri maupun ba.gi pelanggannya. Misalnya dekat ke pemasok, ke konsumen, ke alat transportasi, atau di antara ketiganya. Di samping itu, lokasi bisnis harus menarik agar konsumen tetap loyal.
2. Volume operasi. Volume operasi harus relevan dengan potensi pasar dan prediksi permintaan, sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan kapasitas. Volume operasi yang berlebihan akan menimbulkan masalah baru dalam penyimpanan/penggudangan yang pada akhirnya mempengaruhi harga pokok penjualan.
3. Mesin dan peralatan. Mesin dan peralatan harus sesuai dengan perkembangan teknologi masa kini dan yang akan datang serta harus disesuaikan dengan luas produksi agar tidak terjadi kelebihan kapasitas.
4. Bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku dan bahan penolong serta sumber daya yang diperlukan harus cukup tersedia. Persediaan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan sehingga biaya bahan baku menjadi efisien.
5. Tenaga kerja. Berapa jumlah tenaga kerja yang diperlukan dan bagaimana kualifikasinya. Jumlah dan kualifikasi karyawan harus disesuaikan dengan keperluan jam kerja dan kualifikasi pekerjaan untuk menyelesaikannya.
6. Tata letak. Tata ruang berbagai fasilitas operasi harus tepat dan prosesnya praktis sehingga dapat mendukung proses produksi.
Bila aspek pemasaran dan operasi layak, maka selanjutnya menganalisis aspek manajemen.

Analisis Aspek Manajemen
Dalam menganalisis aspek-aspek manajemen, terdapat beberapa unsur yang harus dianalisis, seperti:
1. Kepemilikan. Apakah unit bisnis yang akan didirikan milik pribadi (perseorangan) atau milik bersama (persekutuan seperti CV, PT, dan bentuk badan usaha lainnya). Apa saja keuntungan dan kerugian dari unit bisnis yang dipilih tersebut? Hendaknya dipilih yang tidak berisiko terlalu tinggi dan menguntungkan.
2. Organisasi. Jenis organisasi apa yang diperlukan? Apakah organisasi lini, staf, lini dan staf, atau bentuk lain. Tentukan jenis yang paling tepat dan efisien.
3. Tim manajemen. Apakah bisnis akan dikelola sendiri atau melibatkan orang lain secara profesional, hal ini bergantung pada skala usaha dan kemampuan yang dimiliki wirausaha. Bila bisnis merupakan skala besar, maka sebaiknya dibentuk tim manajemen yang solid.
4. Karyawan. Karyawan harus disesuaikan dengan jumlah dan kualifikasi yang diperlukan.
Bila analisis ketiga aspek di atas tidak menimbulkan permasalahan, maka analisis bisnis dapat diteruskan pada analisis aspek keuangan.

Analisis Aspek Keuangan
Analisis aspek keuangan meliputi komponen-komponen sebagai berikut:
1. Kebutuhan dana, yaitu kebutuhan dana untuk operasional perusahaan, misalnya besarnya dana untuk aktiva tetap, modal kerja, dan pembiayaan awal.
2. Sumber dana. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa sumber dana yang layak digali, yaitu sumber dana internal (misalnya modal disetor dan laba ditahan) dan modal eksternal (misalnya penerbitan obligasi dan pinjaman).
3. Proyeksi neraca. Sangat penting untuk mengetahui kekayaan perusahaan, serta kondisi keuangan lainnya, misalnya saldo lancar, aktiva tetap, kewajiban jangka pendek, kewajiban jangka panjang, dan kekayaan bersih.
4. Proyeksi laba rugi. Proyeksi laba rugi dari tahun ke tahun menggambarkan perkiraan laba atau rugi di masa yang akan datang. Komponennya meliputi proyeksi penjualan, biaya, dan laba rugi bersih.
5. Proyeksi arus kas. Dari arus kas dapat dilihat kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban keuangannya. Ada tiga jenis arus kas, yaitu:
a. Arus kas masuk, merupakan penerimaan berupa hasil penjualan atau pendapatan.
b. Arus kas keluar, merupakan biaya-biaya termasuk pembayaran bunga dan pajak.
c. Arus kas masuk bersih, merupakan selisih dari arus kas masuk dan arus kas keluar ditambah penyusutan dengan perhitungan bunga setelah pajak.

Kriteria Investasi
Untuk mengetahui layak atau tidak suatu investasi yang dilakukan dan menguntungkan secara ekonomis, dipergunakan empat kriteria, yaitu metode Periode Pembayaran Kembali (Payback Period), Nilai Sekarang.
Rumusnya:

Arus kas masuk bersih = Laba setelah pajak + penyusutan +.(1 - tarif pajak) bunga

TABEL 10.1 Proyeksi Arus Kas

Tahun Laba Setelah Pajak Penyusutan Bunga Perolehan
0 1.000.000 100.000 0,18 1.100.000
1 2.500.000 350.000 0,20 2.850.000
2 3.250.000 500.000 0,22 7.750.000
3 6.500.000 1.000.000 0,24 7.500.000

Bersih (Net Present Value), Tingkat Pengembalian Internal (Internal Rate of Return), dan Indeks Probabilitas (Probability Index).

Periode Pembayaran Kembali
Periode pembayaran kembali sangat penting untuk menghitung jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat periode pembayaran kembalinya, maka semakin baik bisnis tersebut. Periode pembayaran kembali adalah periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi. Untuk menghitung waktu pengembalian investasi tersebut digunakan rumus:

Periode Pembayaran Kembali = 1 tahun

Jika periode pembayaran kembali lebih pendek waktunya daripada periode pembayaran kembali maksimum, maka usulan investasi dapat diterima.
Contoh:
Suatu perusahaan menanamkan modalnya dalam bentuk investasi sebesar Rp 24.000.000. Dari investasi tersebut diperoleh keuntungan setelah pajak sebesar Rp 5.000.000. Jika depresiasi sebesar Rp3.000.000, maka periode pembayaran kembali adalah :
Investasi Rp. 24.000.000
Keuntungan setelah pajak Rp. 5.000.000
Depresiasi Rp. 3.000.000
Arus kas masuk Rp. 8.000.000

Periode pembayaran kembali = 1 tahun = 3 tahun
Perhitungan dengan menggunakan periode pembayaran kembali seperti di atas masih memiliki kelemahan karena tidak memperhitungkan unsur waktu.
Perlu diingat bahwa suatu bisnis memiliki keuntungan ekonomis apabila:

= TR – TC > 0 atau
= Bt – (Co +  Ct) > 0 atau
= =

di mana:
= Laba (keuntungan ekonomis)
TR = Bt (benefit), penerimaan total tahunan yang merupakan manfaat ekonomis suatu proyek atau disebut juga arus kas per tahun pada periode t
TC = Co + I Ct = lo, biaya tahunan yang dikeluarkan, disebut sebagai investasi awal pada periode t
Co = Biaya tetap awal
Ct = Biaya variabel
Dalam perhitungan laba seperti di atas terdapat kelemahan sebab tidak memasukkan unsur waktu dan suku bunga atau tingkat pengembalian atas investasi. Suku bunga atau tingkat pengembalian adalah konsep periodik untuk mengukur tingkat pengembalian investasi (return on invesment—ROI). Untuk mengukur suku bunga biasanya digunakan suku bunga bank yang berlaku secara umum atau berdasarkan tingkat pengembalian minimum yang diharapkan investor (expected minimum atractive rate of return-MARK).
Dalam menilai kriteria investasi, unsur waktu dan suku bunga harus dimasukkan, seperti pada penilaian kriteria nilai sekarang bersih (Net Present Value-NPV).
Kriteria Nilai Sekarang Bersih
Perlu diperhatikan bahwa nilai uang sebagai manfaat ekonomi dari usaha yang diperkirakan akan diterima di masa yang akan datang tidak sama dengan nilai uang yang diterima sekarang karena adanya faktor suku bunga dan besarnya biaya yang dianalisis sepanjang waktu. Oleh sebab itu, dalam studi kelayakan usaha, unsur waktu dan suku bunga harus diperhitungkan.
Rumus :

NPV(i) = atau
NPV(i) =  PFt (Bt) -  PFt (Ct) dimana t = 1, 2, 3..., n
Sedangkan PFt = (1+ i)-t adalah faktor nilai sekarang, di mana
NPV = Nilai sekarang bersih
Bt = Arus kas masuk pada periode t (benefit)
i = Tingkat bunga bank yang berlaku (interest)
t = Periode waktu
(1 + i)-t = Faktor nilai sekarang (discount factor atau PFt).
PFt dapat dihitung sebagai berikut:
PFt (1 + i)-t
PF2 (1 + j)-2
PF3 (1 i)-3 dan seterusnya
Bila dimisalkan bunga bank yang berlaku 24%, maka:
PF2 = (1 + 0,24) -2 = 0,6504
Contoh:
Perusahaan konveksi di Bandung ingin menambah mesin jahit baru dengan biaya investasi awal sebesar Rp 40 juta. Umur ekonomis mesin ditaksir 5 tahun. Dari hasil survei diperoleh perkiraan arus kas (penerimaan dan biaya) adalah sebagai berikut:
Tahun Biaya Total (Ct)
(jutaan rupiah) Penerimaan Total (Bt)
(jutaan rupiah)
0 40 0
1 10 20
2 15 25
3 40 80
4 20 60
5 5 40

Bila uang yang diinvestasikan tersebut dapat dipinjam dari bank dengan bunga 18% per tahun, apakah keputusan pernbelian mesin baru itu layak secara ekonomis?
Soal ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus:


NPV =

maka dalam tabel akan tampak sebagai berikut :
Tahun PF Ct Bt PF(Ct) PF(Bt) NPV
(1) (2) (3) (4) (5) = (2) (3) (6)= (2)(4) (7)= (6) - (5)


0 1 40 0 40,00 0 -40
1 0,8475 10 20 8,47 16,95 8,48
2 0,7182 15 25 10,77 17,95 7,18
3 0,6086 40 80 24,34 46,69 22,35
4 0,5158 20 60 10,32 30,95 20,63
5 0,4371
5 40 2,19 17,48 15,29
NPV(i=0,18) = NPVt = 33,93
Catatan : PFt = (1 + i)-t = (1 + 0,18)-t
Berdasarkan perhitungan NPV di atas, maka keuntungan ekonomis pembelian mesin jahit baru adalah Rp 33,93 juta. Karena NPV > 0, maka pembelian mesin untuk konveksi tersebut dianggap layak berdasarkan pertimbangan ekonomi.

Kriteria Rasio Biaya - Manfaat
Untuk menghitung rasio biaya-manfaat (benefit cost ration-BCR) digunakan rumus sebagai berikut :

B C R(i) =

Manfaat ekonomis diperoleh apabila BCR > 1. Dari kasus di atas, besar BCR adalah sebagai berikut:
PFt(BT) = 16,95 + 17,95 + 16,96 + 30,95 + 17,48 = 130,02
PFt(CT) = 40 + 8,47 + 10,77 + 24,34 + 10,32 + 2,19 = 96,09
B C R (i) = = = 1, 35
Karena nilai BCR > 1, maka investasi dalam mesin baru pada perusahaan konveksi tersebut layak secara ekonomis. Manfaat ekonomis dari pembelian mesin baru adalah 1,35 kali lebih besar dari nilai biaya total pada tingkat bunga = 0,18. Dengan besar BCR = 1,35 berarti setiap Rp 1 yang diinvestasikan akan memberikan hasil sebesar Rp 1,35 sehingga investasi dalam usaha konveksi tersebut dapat dikatakan layak. Bila BCR < 1, maka proyek bisnis merugikan secara ekonomis.

Kriteria Tingkat Pengembalian Internal
Tingkat pengembalian internal (internal rate of return-IRR) adalah tingkat bunga (interest rate-i) yang membuat nilai sekarang bersih (net present value-NPV) menjadi nol atau disebut juga indeks profitabilitas (profitability index-PI). Kriteria IRR adalah :
Bila IRR > MARR , maka bisnis layak secara ekonomis
di mana:
MARR = Minimum Atractive Rate of Return.
IRR dapat dihitung dengan cara coba-coba memasukkan tingkat bunga, yaitu untuk mengetahui secara pasti berapa besar tingkat bunga yang membuat NPV = 0. Misalkan dalam kasus di atas ketika dimasukkan nilai tingkat bunga 18%, maka nilai NPV = Rp 33,93 juta yang berarti nilai NPV > 0. Karena nilai NPV > 0, maka kita coba lagi dengan menggunakan bunga di atas 18%, misalkan 24%, sehingga hasilnya adalah sebagai berikut:


Tahun PF Ct Bt PF(Ct) PF(Bt) NPV
(1) (2) (3) (4) (5)= (2)(3) (6)= (2)(4) (7)= (6) - (5)
0 1 20 0 40,00 0 -40
1 0,7143 10 20 7,14 14,28 7,14
2 0,5102 15 25 7,65 12,76 5,11
3 0,3644 40 80 14,58 29,15 14,57
4 0,2603 20 60 5,20 15,62 10,42
5 0,1859 5 40 0,93 7,43 6,50
NPV(i=0,36) = NPVt = 3,74

Dengan menggunakan tingkat bunga 24%, ternyata NPV masih lebih besar daripada nol. Ketika di coba lagi dengan menggunakan tingkat bunga 40%, hasilnya adalah sebagai berikut:
Tahun PF Ct Bt PF(Ct) PF(Bt) NPV
(1) (2) (3) (4) (5) = (2) (3) (6) = (2) (4) (7)= (6) - (5)
0 1 20 0 40,00 0 -40
1 0,7353 10 20 7,35 14,71 7,36
2 0,5407 15 25 8,11 13,51 5,40
3 0,3975 40 80 15,90 31,80 15,90
4 0,2923 20 60 5,85 17,54 11,69
5 0,2149 5 40 1,01 8,59 7,58
NPV(1=0,36) = NPVt = 7,94

Ternyata NPV > 0, maka dicoba lagi dengan menggunakan tingkat bunga sebesar 48%, hasilnya adalah sebagai berikut:

Tahun PF Ct Bt PF(Ct) PF(Bt) NPV
(1) (2) (3) (4) (5)= (2)(3) (6)= (2)(4) (7)= (6) - (5)
0 1 20 0 40,00 0 -40
1 0,6757 10 20 6,76 13,51 6,75
2 0,4565 15 25 6,85 11,41 4,56
3 0,3085 40 80 12,34 24,68 12,34
4 0,2084 20 60 4,17 12,50 8.33
5 0,1408 5 40 0,70 5,63 4,93
NPV (i=0,48) = NPVt = -3,09

Setelah dicoba dengan tingkat bunga 48%, ternyata nilai NPV < 0. Dengan cares coba-coba seperti di atas, maka diperoleh:
NPV(i=0,18) = 33,93 > 0
NPV(i=0,36) = 7,94 > 0
NPV(i=0,40) = 3,74 > 0
NPV(i=0,48) = -3,09 < 0
NPV = 0 terletak antara tingkat bunga 40% dan 48%. Selain di antara angka-angka itu NPV tidak sama dengan nol. Dengan menggunakan interpolasi, maka:
i = 0,40 NPV = 3,74
i = 0,48 NPV = -3,09
maka:
IRR = 0,40 +
IRR = 0,4438
Karena pada tingkat bunga 44,38 % nilai NPV = 0, maka proyek tersebut layak secara ekonomis. Perhitungan IRR dapat dengan mudah dilakukan dengan menggunakan kalkulator financial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar